Terbaru :

Hukum Sujud di Atas Lempengan Tanah Karbala


Bismillahirrahmanirrahim

Dalam shalat, seorang muslim harus mengikuti tatacara shalat Rasulullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dan Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." (HR. Bukhari, no. 6008)
Dalam ibadahnya, Syi'ah memiliki inovasi-inovasi kontemporer yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Salah satunya adalah mengharuskan sujud di atas lempengan "Tanah Karbala." Tentu kita bertanya, apa hukumnya?

PERTAMA: Shalat di atas "al-Hawa'il" (alas/pembatas Antara jidad dan tempat sujud).
Dalam hal ini, ulama mengklasifikasikan al-Hawa'il (alas/pembatas) pada tiga bagian:
1.     Pembatas berupa anggota tubuh, seperti kedua telapak tangan.
Hukumnya:  Sujud di atas kedua telapak tangan hukumnya tidak boleh. (Lihat Fath al-Qadir, juz I, h. 306, al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, juz III, h. 428, al-Mughni, juz II, h. 198).
2.     Pembatas bukan anggota tubuh dan terpisah dari tubuh, seperti sejadah, karpet, dll.
Hukumnya: Ulama sepakat bahwa shalat di atas sejadah, karpet dan sejenisnya hukumnya boleh. (Lihat: al-Bahr al-Raiq, juz I, h. 337, al-Mudawwanah, juz I, h. 170, al-Hawi, juz II, h. 127, Masa'il Imam Ahmad wa Ishaq ibn Rahawaih, juz II, h. 569).
Sebab, Rasulullah pernah shalat di atas khumrah dan  hashir/sejenis tikar. (Lihat: Shahih Bukhari, no. 379, dan Muslim, no. 519).
Syekh Sholeh al-Utsaimin berkata: " Akan tetapi, makruh hukumnya mengkhususkan benda tertentu hanya untuk tempat sujud bagi jidad. (Lihat al-Syarh al-Mumti', juz III, h. 115).
3.     Pembatas berupa pakaian yang digunakan, seperti ujung serban, ujung lengan baju, dll.
Hukumnya: Jika ada udzur seperti saat musim panas atau musim dingin, atau kepala terluka dan diperban, sehingga tidak kuat untuk sujud langsung di atas tanah, maka sujud di atas pembatas jenis ini dibolehkan. Dan ini menjadi kesepakatan ulama.(Lihat: al-Binayah Syarh al-Hidayah, juz I, h. 242, al-Mudawwanah, juz I. h. 170, al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, juz III, h. 424, al-Inshaf, juz II, h. 68).
Adapun jika tidak ada Udzur, maka jumhur ulama (Hanafi, Maliki, dan Hanbali) memakruhkannya. Sedangkan Mazhab Syafi'i tidak membolehkannya. (Lihat: Referensi di atas).
KEDUA: Hukum Sujud di Atas Lempengan Tanah Karbala.

Jika dilihat dari klasifikasi di atas, maka tanah Karbala termasuk bagian kedua. Namun ada perbedaan yang sangat nyata antara lempengan tanah karbala dengan sejadah dan yang sejenisnya. Jadi hukum asala sujud di atas lempengan tanah Karbala adalah makruh, sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Ibn Utsaimin di atas.
Akan tetapi, sujud di atas tanah Karbala bisa menjadi haram, dengan berbagai pertimbangan berikut:

1.  Lempengan tanah Karbala menghalangi jidad sehingga tidak besentuhan langsung dengan tempat sujud, baik itu tanah ataupun sejadah dan sejenisnya.
Padahal semua ulama sepakat bahwa jidad wajib mubasyarah/bersentuhan langsung dengan tempat sujud jika tidak ada udzur. (Lihat: al-Binayah Syarh al-Hidayah, juz I, h. 242, al-Hawi, juz II, h. 127, al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, juz III, h. 424, Syarh Zarkasyi 'Ala Mukhtashar al-Khiraqi, juz I, h. 569).
2.    Syi'ah hanya mengkhususkan lempengan tanah Karbala untuk jidad, padahal sujud wajib dilakukan atas tujuh anggota tubuh, jidad, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung telapak kaki. Jika memang mereka mengharuskan sujud di atas tanah, maka mengapa keenam anggota tubuh lainnya sujud di atas karpet atau sejadah?
Mereka juga hanya mengkhususkan tanah Karbala, karena sangat mengagungkannya, padahal semua tanah sama saja. Dan jika memang ada tanah yang diagungkan, maka tanah Makkah jelas lebih mulia daripada tanah Karbala-Irak. Namun Rasulullah dan sahabat beliau tidak pernah mengambil lempengan Tanah Makkah atau Madinah untuk tempat sujud, dan dibawa ke mana-mana.
3. Pengkhususan tanah Karbala oleh Syia'h, karena mereka sangat mengagungkan dan mengkultuskannya, karena di situ tertumpah darah Husein ibn Ali. Namun, ini adalah ideologi terbodoh yang ada dalam sejarah, sebab:
Pertama: Tanah tempat tertumpahnya darah Husein sudah tidak asli lagi, terkikis air, diterbangkan angin, perubahan alam, habis diambil oleh pendahulu mereka dll, apalagi telah berlalu ratusan tahun.
Kedua: Jika benar masih menyimpan darah Husein, maka hukumnya najis karena bercampur dengan darah.
Ketiga: Bukankah di tanah itu Husein terbunuh, bukankah di tanah itu kaum Syi'ah mengkhianati beliau. Bukankah di sana penuh dengan bencana dan bala'? Namun mengapa mereka justru mengkultuskannya?
4.       Dalam referensi Syi'ah, Karbala adalah tanah yang paling dibenci oleh Ahlul Bait
Dalam riwayat Syi'ah (Bihar al-Anwar, juz XXXX, h. 252) disebutkan: Ibnu Abbas berkata, aku pernah bersama Amirul Mukminin (Ali ibn Abi Thalib) dalam perang Shiffin. Ketika tiba di sekitar Ninawa, beliau berkata: Wahai Ibn Abbas, tahukah Anda tempat apa ini? Aku menjawab; Tidak wahai Amirul Mukminin. Kemudian beliau berwudhu dan shalat. Kemudian beliau bertanya lagi seperti tadi. Lalu beliau berkata: "Ini adalah tanah KARBUN WA BALA'(tanah penuh bencana dan bala), di sini akan dikuburkan Husein, dan 17 dari keturunanku, dari keturunan Fathimah. Di langit tanah ini dikenal dengan tanah KARBUN wa Bala'."
Dalam riwayat lain disebutkan: Tempat ini disebut Karbala, dan dia adalah tempat Karb dan Bala' bagi kita (Ahlul Bait) dan bagi umat!
5.    Pengkultusan Syi'ah terhadap tanah Karbala, sebagai tempat terbunuhnya Husein, sangat menyerupai Kristen yang mengkultuskan salib, padahal salib sesuai klaim mereka adalah tempat dibunhnya Isa 'alaihissalam.
KESIMPULAN:
Sujud di atas lempengan tanah Karbala asalanya makruh, namun jika disertai pengkultusan atasnya bisa menjadi haram. Sebab, perbuatan ini menyalahi syari'at Allah dan rasul-Nya, sebagaimana telah dijelaskan di atas.


Intinya, Syi'ah sangat berusaha menyelisihi ahlus sunnah dalam ibadah dan berbagai perkara lainnya. Dalam shalat umpamanya, Syia'h tidak mewajibkan shalat jum'at hingga Imam Mahdi mereka keluar. Waktu shalat fardhu hanya tiga. Posisi imam shalat harus lebih rendah dari makmum. Dalam puasa, mereka tidak berbuka puasa hingga malam, seperti Yahudi. Dalam zakat mereka mewajibkan Khumus, tidak mewajibkan zakat. Dalam haji, mereka tidak mewajibkan haji ke Makkah, dan boleh diganti dengan haji ke Karbala. Dalam nikah mereka mengharuskan nikah mut'ah…dst. Intinya, mereka ingin tampil beda!

By: Admin

Author

Written by Ahfad ‘Umar

محبي الصحابة و آل البيت الكرام

0 komentar: