Terbaru :

Sunni Dalam Pandangan Syi’ah (2) – Julukan Bagi Anda Oleh Syi’ah Rafidhah

Seperti yang telah kita ketahui bersama dalam tulisan sebelumnya bahwa Syi’ah Rafidhah Imamiyah Ja’fariyah tidak segan-segan menjuluki Ahli Sunnah dengan nama kafir, musyrik, dan najis. Namun sebenarnya ada beberapa nama atau julukan lain yang kaum Syi’ah buat-buat, kedengarannya julukan-julukan tersebut tidak terlalu kasar jika dibandingkan dengan julukan kafir, musyrik, atau najis, tapi sebenarnya dari segi makna semuanya sama saja.


Diantara julukan tersebut adalah:

1. Nawaashib

Kata tunggalnya; “Naashibi” atau juga disebut “Naashibah” yaitu orang yang membenci/memusuhi Ahli Bait. Sebenarnya makna istilah ini benar, tapi dalam agama Syi’ah Rafidhah, golongan yang pertama kali masuk dalam kata “nawaashib” ini adalah Ahli Sunnah karena mereka menganggap Ahli Sunnah adalah musuh Ahli Bait. Simak ucapan ulama-ulama rujukan mereka:

Ad-Daaraazi dalam kitab Al-Mahaasin An-Nafsaaniyah hal. 147 mengatakan; “Tidak ada perbedaan pendapat (dalam sekte Syi’ah) bahwa makna An-Naashibah adalah Ahli Tasannun (baca; Ahli Sunnah).” Ia juga berkata; “Bahkan dari kisah-kisah mereka (imam-imam Syi’ah) mereka menyerukan bahwa Naashib adalah golongan yang mereka sebut sebagai Sunni.”

Ucapannya ini sangat jelas, bahwa makna nawaashib (musuh/pembenci Ahli Bait) menurut Syi’ah Rafidhah adalah Ahli Sunnah. Simak salah satu ulama mereka berikut.

‘Ali Aali Muhsin dalam kitabnya Kasyful-Haqaaiq (249) berkata: “Adapun nawaashib dari kalangan ‘Ulama Ahli Sunnah maka mereka banyak juga, diantaranya Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Ibnul Jauzi, Syamsuddin Adz-Dzahabi, dan Ibnu Hazm Al-Andalusi…”

Jika ulama-ulama besar Ahli Sunnah tersebut disebut nawaashib apatah lagi kalangan Ahli Sunnah seluruhnya.

Yang lebih parah lagi ulama mereka Muhsin Al-Mu’allim dalam kitab An-Nashab Wa An-Nawaashib (259) dibawah bab ‘An-Nawaashib dari kalangan para hamba’ menyebutkan lebih dari 200 Shahabat dan ‘Ulama Ahli Sunnah yang masuk sebagai kategori nawaashib, seperti; Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Aisyah, Anas bin malik, Hassan bin tsabit, Az-Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’id bin Musayyib, Al-Auza’i, Imam Malik, ‘Urwah bin Zubair, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, Al-Bukhari, Az-Zuhri, dll. Adapun ‘Ulama-‘Ulama sekarang maka ia sebutkan; Hamid Al-Faqiy (Ketua organisasi Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah Mesir), Muhammad Rasyid Ridha (pemilik majalah Al-Manar), Muhibbuddin Al-Khathib (‘Ulama penentang Syi’ah dan penentang Al-Khumaini).

Jika para Shahabat saja yang merupakan orang-orang paling utama dikalangan umat Islam disebut nawaashib (pembenci Ahli Bait), lalu bagaimanakah dengan selain mereka?!

Itulah “Nawaashib” versi Syi’ah. Adapun dalam keyakinan Ahli Sunnah, maka Nawaashib adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Ahli Bait seperti sebagian kaum Khawarij. Dan Ahli Sunnah sama sekali tidak membenci Ahli Bait, akan tetapi mereka mencintai Ahli Bait dan memuliakan mereka, namun kecintaan dan pengagungan ini tidaklah secara berlebih-lebihan (ghuluw) seperti Syi’ah, atau sebagian kaum shufi. Jadi pandangan Ahli Sunnah terhadap Ahli Bait adalah pertengahan antara Nawaashib dan Syi’ah.

2. Al-Mukhalif

Julukan Al-Mukhalif, jamaknya adalah Al-Mukhalifun, menurut Syi’ah maknanya adalah orang-orang yang menyelisihi Syi’ah dari kalangan Ahli Sunnah.

Ulama mereka yang bernama Yusuf Al-Bahrani dalam kitabnya Al-Hadaaiq An-Naadhirah 18/107 berkata: “An-Naashib, jika disebut secara mutlak dalam akhbar dan ucapan para pendahulu (Syi’ah), maka maksud mereka adalah Al-Mukhaalif.”

Ia juga berkata: “Dan tafsir An-Naashib dalam akhbar mereka – para Imam- adalah orang yang memiliki keterkaitan dengan hukum-hukum berupa kenajisan mereka, tidak bolehnya menikahi mereka, harta dan darahnya halal, dan hukum-hukum lainnya , dan ia (An-Naashib) adalah ibarat seorang Mukhaalif.”

Jika mencermati ucapannya ini, maka kita simpulkan;

1. Yusuf Al-Bahrani menyebut An-Naashib sebagai Mukhalif, dan sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa An-Naashib sendiri adalah Ahli Sunnah menurut Syi’ah. Jadi, dalam kacamata Syi’ah adalah: Ahli Sunnah = Nawaashib = Mukhaalifuun.

2. Jika demikian, maka maksud ucapannya yang terakhir bahwa mukhalif yang merupakan orang yang najis, haram dinikahi, serta halal darah dan hartanya adalah kalangan Ahli Sunnah.

Jika kita telah paham ucapannya ini, maka selanjutnya mari menyimak ucapan Yusuf Al-Bahrani lagi, masih dalam kitabnya di atas (18/58), ia berkata: “Sesungguhnya engkau telah tahu, bahwa Al-Mukhalif (baca; Ahli Sunnah) adalah kafir, tidak berhak mendapatkan predikat Islam dari segi manapun juga.”

Terus, apa hukumnya dalam agama Syi’ah seorang Ahli Sunnah / Al-Mukhalif yang memiliki sikap “inshof” dan mau melakukan taqrib dengan Syi’ah??

Sayid Abdullah Syibr memberitahu anda dalam kitabnya Ma’rifat Ushuluddin (2/177) : “Adapun seluruh Al-Mukhalifin (Ahli Sunnah) yang tidak memusuhi (Syi’ah) dan tidak fanatik (dengan mazhab Ahli Sunnah) maka menurut pendapat sebagian ulama Syi’ah Imamiyah adalah bahwa mereka kafir di dunia maupun diakhirat, adapun pendapat jumhur dan yang popular adalah bahwa mereka kuffar, kekal dalam neraka.”

Jadi, tidak ada pilihan lain bagi Ahli Sunnah untuk selamat –menurut mereka– kecuali masuk kedalam agama Syi’ah Rafidhah Imamiyah. Na’udzu billahi minal jahli wa adh-dholal.

3. Al-‘Ammaah

Julukan Al-‘Aammah / orang-orang awam atau biasa. Mereka memberikan julukan ini khusus untuk membedakan diri mereka dari golongan Ahli Sunnah, dan menyebut golongan mereka sendiri dengan julukan Al-khaashshah / orang-orang istimewa atau khusus dan terpilih.

Syaikh mereka, Muhsin Al-Amin berkata: “Al-Khaashshah, istilah ini dijuluki oleh ash-haab kami (Syi’ah) untuk golongan mereka sendiri, sebagai lawan dari istilah Al-‘Aammah yang merupakan julukan untuk orang-orang yang dikenal sebagai Ahli Sunnah wal Jama’ah.” [A'yan Asy-Syi’ah, 1/21]

Fath An-Namari juga berkata: “Adapun hadis yang diriwayatkan dari jalur Al-‘Aammah maka banyak dari Ahli Hadits mereka telah meriwayatkannya seperti Bukhari dan Muslim.” [Qaidah La Dharara, hal.21]

Tentu julukan ini mereka buat berdasarkan keyakinan mereka bahwa merekalah manusia-manusia terpilih untuk membela Islam. Tentu kita tidak perlu memperpanjang jawaban tentang “siapakah manusia terpilih” karena hidayah dan kesesatan telah cukup jelas bagi kita. Namun simaklah sedikit Firman Allah Ta’ala berikut:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا

“Kemudian Kitab itu (Al-Qur’an) Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami” {QS Fathir : 32}

Apakah Syi’ah Rafidhah masuk dalam kategori hamba-hamba terpilih (Al-Khaashshah) dalam Ayat ini?? Jawabannya mustahil karena mereka sendiri tidak percaya keaslian Al-Qur’an, lalu bagaimana bisa menjadi umat terpilih (baca; Al-Khaashshah) kalau menganggap Kitab Al-Quran tidak lagi asli?? Tentu jawaban yang paling benar bahwa Al-Khaashshah adalah golongan Ahli Sunnah sesuai Ayat tersebut diatas karena merekalah yang menjaga Al-Qur’an dan mengamalkannya.



Author

Written by Ahfad ‘Umar

محبي الصحابة و آل البيت الكرام

0 komentar: