Terbaru :
  • Motif Sesungguhnya Serangan Amerika Ke Suria Dan Pesan Pimpinan Tertinggi FSA Kepada Mujahidin
  • Kemuliaan Karbala Di Mata Syi’ah
  • Mu’ammam Syi’ah Berwajah Indo, Kenapa Tidak?!

Al-YARMOUK CAMP (Mukhayyam al-Yarmouk)



Didirkan pada tahun 1957 M, di atas tanah seluas 2,11 Km persegi. Pusat pengungsian ini dibuka untuk menampung para pengungsi Palestina. Masih termasuk bagian dari Kota Damaskus, camp pengungsian ini terletak sekitar 8 Km dari pusat kota.

Seiring dengan perjalanan zaman, Camp Pnegungsian al-Yarmouk berubah menjadi pemukiman, yang dilengkapi dengan rumah sakit dan beberapa sekolah.

Pasca meletusnya revolusi Suria, al-Yarmouk Camp menjadi alternatif pelarian bagi sebagian muslim Damaskus.

Rezim Basyar menuduh pengungsi al-Yarmouk menyembunyikan para revolusioner ( baca, Mujahid). Tuduhan ini dijaidkan alasan untuk menyerang camp ini dengan kendaraan lapis baja.

Sejak September 2013, Rezim Basyar memblokade sebagian daerah pengungsian yang menyebabkan sekitar 20 ribu pengungsi terisolasi dari dunia luar. Saat ini camp ini telah diblokade dari segala penjuru.

Satu persatu pengungsi Palestina dan Suria yang berada di sana jatuh berguguran akibat kelaparan, dan minimya bantuan kesehatan. Setiap bantuan yang berusaha disampaikan oleh berbagai pihak termasuk dari The United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) selalu dihadang oleh Syabihah Basyar Asad. Bukan hanya itu, sebagian besar bantuan tersebut disita dan 'dimakan' oleh tentara rezim.

Sekolah dan Rumah Sakit ditutup, listrik dipustus, orang-orang sakit tidak bisa dibawa keluar, sedangkam bantuan dari luar di larang masuk.

Apakah Syi'ah Basyar masih pantas disebut manusia? Bukankah seluruh penghuni Camp ini adalah kaum muslimin dari Palestina dan Suria? Bukankah mayoritas mereka adalah orang tua, wanita, anak-anak dan balita? Bukankah seluruh kaum Syi'ah selalu meneriakkan "Bebaskan al-Quds"?

Ya Rabb, curahkanlah kasih sayang-Mu atas saudara-saudara kami di Pengungsian al-Yarmouk khususnya, dan di Bumi Syam umumnya. Ya Allah, hukumlah semua pihak yang menzhalimi mereka.
read more →

NASKAH 'PETISI UMAT' UNTUK DAMAIKAN MUJAHIDIN SYAM

Bismillahirrahmanirrahim


Segala puji bagi Allah yang berfirman “Maka demi tuhanmu, sungguh mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka terhadap yang engkau putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS An-Nisa: 65)
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau.

Umat saat ini sedang menapaki masa-masa sulit. Jihad di Syam hari ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Seandainya para inisiator perdamaian tidak mengajak kepada persatuan, maka sudah bisa dipastikan jihad Syam akan jatuh pada perang saudara antar sesama muslim, yang tidak diketahui kapan berakhirnya.

Sesungguhnya Nabi kita –Shollallahu ‘alaihi wasallam – telah meninggalkan kita dalam keadaan terang benderang, yang malamnya bagaikan siang. Tidak ada yang melenceng dari jalan itu melainkan dia akan binasa. Allah telah menjelaskan kepada kita solusi saat terjadi perselisihan, yaitu mengembalikan perselisihan kepada Al-qur’an dan Sunnah. Allah berfirman: “Maka demi tuhanmu, sungguh mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka terhadap yang engkau putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS An-Nisa: 65).

Umat hari ini meminta penjelasan kepada para ulama tentang sikap yang seharusnya diambil seorang muslim dalam menyikapi perselisihan yang terjadi antara mujahidin. Disamping itu umat juga meminta penyelesaian konflik sesuai dengan tuntunan Kitab dan Sunnah, tanpa ada pengecualian, sebagaimana yang telah dijelaskan para ulama.

Allah berfirman: “Dan Jika dua kelompok orang beriman saling bertikai, maka damaikanlah di antara keduanya“.(QS Al-Hujurot: 9)

Dalam tafsir fi Dzilalil Qur’an disebutkan ketika mengomentari ayat di atas: “Al-qur’an membebankan kepada kaum muslimin yang tidak bertikai untuk mendamaikan kedua belah pihak. Apabila salah satu pihak menolak perdamaian, atau menolak hukum Allah dalam hal yang diperselisihkan, maka wajib bagi kaum muslimin memerangi pihak yang menentang perdamaian (Bughot) sampai mereka mau kembali kepada hukum Allah“.

Pondasi dalam menentukan siapa yang berbuat dzolim (dan pantas dihukum) dan siapa yang terdzolimi adalah hukum Allah.

Saya telah bertemu dengan pihak-pihak yang bertikai hari ini dan saya melihat ada kesepahaman di antara mereka dalam menghentikan pertikaian. Mereka juga setuju berhukum dengan hukum Allah dalam menyelesaikan pertikaian ini.

Maka dari itu ‘Mubadaroh’ ini bertujuan mendudukkan permasalahan yang ada secara objektif, dan Mubadaroh ini kami namakan dengan ‘Mubadarotul Ummah’. Kami telah mengajukan ini kepada para ulama dan semoga ini menjadi sebab terjaganya darah kaum muslimin dan terwujudnya persatuan di antara mereka.
Dan kami juga mendapat kabar gembira -kami melihat ini adalah tanda-tanda kebaikan- bahwa Syaikh Aiman Adz-Dzowahiri telah merilis pesan terbarunya, yang intinya senada dengan apa yang kami inginkan.

Poin-poin Mubadarotul Ummah (petisi umat):

1. Genjatan senjata antar faksi mujahidin yang bertikai di bumi Syam.

2. Mendirikan pengadilan syar’I yang diisi oleh para hakim yang netral, yang disetujui oleh semua pihak.

3. Seluruh faksi yang menandatangani mubadaroh ini menjadi penjamin bagi terlaksananya putusan-putusan yangg dikeluarkan oleh pengadilan syar’i.

4. Para ikhwah dari markaz du’atul jihad mencalonkan 10 nama ulama dari dewan syari’ah faksi-faksi yang netral, seperti Batalyon Shuqurul ‘Izz, Batalyon Al-Khodhro’, Batalyon Jundul Aqsho dan lain-lain, yang mereka merupakan para mujahid yang berakidah lurus, menurut kami.

Kami akan ajukan kesepuluh nama tersebut kepada pihak-pihak yang bertikai agar mereka memilih nama-nama yang disetujui dan mana yang tidak disertakan dengan alasan ditolak.

Apabila tidak ada kesepekatan terhadap sepuluh nama yang diajukan, kami akan ajukan nama-nama lainnya yang insyallah bumi Syam tidak akan pernah kekurangan stok para ulama, baik ulama pribumi maupun ulama pendatang. Kami melihat hal ini (memilih 10 nama dan diajukan kepada pihak yang bertikai -red) penting karena kalau tidak seperti ini maka perselisihan terhadap nama-nama yang ada akan terus terjadi dan tidak ada kata sepakat.

5. Tenggang waktu 5 hari dari waktu dirilisnya mubadaroh ini, untuk menyatakan penerimaan dan penolakan dan waktu dimulai pada 22 Robiul awal 1435 H s/d 26 Robiul awal 1435 H.

6. Sudah tersedia informasi tentang Mubadaroh ini dalam bentuk sosial media, twitter dan facebook, yang ditujukan untuk melihat respon dan tanggapan atas mubadaroh ini.

7. Setiap faksi berhak mengajukan kasus kepada pengadilan atau berunding dengan pihak yang bertikai.

8. Pihak Pengadilan akan memberikan batas waktu pada setiap kasus. Jika ada pihak yang mangkir dari panggilan, maka dengan terpaksa kasus akan diumumkan di publik dan pengadilan meminta kepada pihak berwenang untuk memanggil paksa pihak yang diadukan ke pengadilan atau memangil paksa kedua belah pihak (pelapor dan terlapor).

9. Kami juga berharap kepada kelompok-kelompok berikut ini, Daulah Islamiyah Irak dan Syam (ISIS), Jabhah Islamiyah, Jaisyul Mujahidin dan Jabhah Tsuwar Suriah, untuk menjelaskan persetujuan atau penolakannya pada batas waktu yang ditetapkan. Sebagaimana kami juga menghimbau Jabhah Nusroh dan seluruh kelompok yang ada di Syam untuk menjelaskan sikap mereka terkait mubadaroh ini, dan begitu juga kami minta tanggapan dan dukungan dari para ulama, mujahidin dan awak media.

Sebagai Penutup

Kami meminta kepada umat sekalian agar mendukung dan ikut menandatangani mubadaroh (petisi) ini pada kolom yang telah tersedia pada situs ini. Kami juga meminta kepada para komandan mujahidin untuk lebih mengedepankan maslahat umat ketimbang maslahat kelompok, dan kami katakan kepada semuanya dengan firman Allah: “Dan jikalau kalian tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar“.(QS Al-Anfal: 73)

Jikau kalian tidak melakukannya maka Syam akan memasuki era perang saudara yang tidak diketahui kapan berakhir. Jika kalian tidak melakukannya, maka kami tanyakan kepada kalian, ‘mana syari’at Allah yang hendak kita perjuangkan dengan pertempuran ini?’Jika kalian tidak melaksanakannya maka kalian telah menyelisihi perintah tuhan kalian yang disebutkan dalam firmannya: “Maka demi tuhanmu, sungguh mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka terhadap yang engkau putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS An-Nisa: 65).

***
Saat ini sudah ada beberapa jama’ah yang mendukung petisi ini:

1. Jabhat Nushrah
2. Katibatul Khodhro’
3. Liwa’ Tauhid
4. Katibah Shuqurul ‘Izz
5. Jabhah Tsuwar Suriah

Adapun tokoh yang menandatangani petisi ini:

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani
Syaikh Abu Maria al qohthoniy (Dewan syariat JN)
Syaikh Shoqrul Jihad (pimpinan katibah shoqrul ‘izz)
Syaikh Husain Bin Mahmud
Dr.Iyad Al Qunaiby
Dr. Akrom Al-Hijazy.

Selengkapnya, baca di:
http://www.bumisyam.com/2014/01/petisi-umat-untuk-damaikan-mujahidin-di-syam.html/

***
Berita terakhir (Ahad, 26 Januari 2014) Dua Satuan Jihad lain telah menyatakan setuju dengan Petisi ini. Kedua satuan jihad tersebut adalah:

1. Al-Jabhah al-Islamiyah.
2. Jaisy al-Mujahidin.
http://islammemo.cc/akhbar/arab/2014/01/27/193129.html
read more →

SOLUSI AKHIR KONFLIK ANTARA SESAMA MUKMIN/MUJAHID


[Tadabbur ayat ]

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. al-Hujurat: 9-10)

***
Sungguh ayat ini sangat sesuai dengan realita yang terjadi di medan jihad Suria saat ini. Dimana terjadi konflik internal berdarah antara ISIS atau yang dalam bahasa Arab lebih terkenal dengan "DA'ISY" dengan mujahidin Suria lainnya.

Jelas, salah satu pihak telah berbuat aniaya terhadap pihak lain, sehingga pihak lain tersebut memerangi pihak yang berlaku aniaya sampai mereka kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.

Bagaimana bisa kita dapat berjihad dengan tenang dan konsentrasi menghadapi musuh, sedang punggung kita terancam tikaman dari belakang. Dari mereka yang mengkalim sebagai mujahidin, namun senjatanya diarahkan kepada sesama muslim, bahkan kepada sesama mujahidin.

***

Sebagian mereka yang mengaku "jihadis" di Indonesia telah diserang virus "ta'ashshub"/fanatik pada golongan jihad tertentu, sehingga sepertinya semua mujahidin salah dan tak pantas dikatakan mujahid, dan hanya idolanya lah mujahid sejati.

Harapan kita adalah agar semua mereka yang peduli dan simpati terhadap jihad Suria, agar sama-sama menahan lisan dari ucapan yang memojokkan mujahidin baik dari ISIS, Jabhah al-Nushrah, al-Jabhah al-Islamiyah, dll. Sampai terlihat yang benar dari yang salah. Yang benar kita dukung, yang salah, semoga bisa kembali kepada kebenaran, dan semua pihak bersedia untuk saling memaafkan. Semua pihak juga harus bersedia diadili dengan syariat Allah, secara adil dan objektif. "Jika mereka semua adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir".

Selalu berdo'a agar perselisihan yang terjadi segera berakhir dengan baik.

Setiap kita yang punya cita-cita berjihad di jalan Allah, hendaklah terlebih dahulu mempelajari dan mendalami fikih jihad sesuai manhaj Rasulullah dan salaf ummat ini. Ratusan tahun umat ini telah dijauhkan dari fikih jihad, sehingga menjadi terasing darinya. Sekarang saatnya kita kembali menghidupkan fikih jihad tersebut. Ilmu dulu baru amal, beramallah dengan ilmu.

Ya Allah, bersihkanlah medan jihad Suria dari mereka yang berperang bukan murni mengharap ridha-Mu, bukan untuk menegakkan kalimah-Mu dan berilah mereka petunujuk. Ya Allah anugerahkanlah dua kemenangan kepada setiap mujahid sejati, yang berjihad dengan ikhlas, dan sesuai manhaj jihad Rasulullah dan sahabat beliau. Dua kemenangan; kejayaan atau syahid.

Ya Allah, hancurkanlah Syi'ah dan mereka yang terlibat langsung dalam pembantaian atas hamba-hamba-Mu di Suria dan Irak, hancurkanlah penjajah Yahudi di Palestina, dan teroris Budha di Burma.

Wallahu A'lam.
read more →

"ABU DUJANAH AL-'ASIRI" BUKAN "ABU BAKAR AL-BAGHDADI"



[Koreksi]

Beliau adalah seorang mujahid dari Arab Saudi. Saat berkelana di media Arab, kami menemukan dua nama berbeda dengan foto yang sama:

1. Utsman Alu Nazih al-'Asiri. 
Beliau adalah doctor ushul fikh di King Khalid University, Abha-Saudi Arabia, yang meninggalkan studinya menuju jihad Fii Sabilillah di bumi Syam, Suria. Di medan jihad Suria beliau dikenal dengan julukan "Abu Dujanah".

Salah satu khutbah beliau dari bumi jihad;http://www.youtube.com/watch?v=nP9IokVklA4
Beliau masuk ke Suria tepatnya di distrik Latakia, dan bergabung bersama brigade Ahrar al-Syam. Selian berjihad, beliau sangat aktif mengajarkan tauhid kepada mujahidin dan genarasi muda di mana belaiu berdomisili, bahkan sempat mendirikan ma'had.

Beliau juga sangat sering mewanti-wanti agar jangan sampai terjadi konflik antara sesama mujahidin.
http://www.shabkh.net/view1thread.php?id=37730

2. Walid bin Ali bin Muhammad Alu Mudawi al-'Asiri.
Menurut versi ini ia berasal dari distrik Khamis Muashait-Saudi Arabia. Dengan S1 jurusan Syaria'h, dan sebelumnya pernah menjadi Imam Masjid. Beliau berangkat ke Suria berselang dua bulan setelah menikah.

Ayahnya berkata: "Kami tidak mengetahui keberadaannya sejak 10 bulan lalu. Berita wafatnya di Suria bagai petir yag menyambar telinga kami, tapi bagaimanapun kami adalah orang yang beriman kepada qadha dan takdir Allah."
http://www.okaz.com.sa/new/Issues/20130529/Con20130529605421.htm

Sampai saat ini, kami belum bisa memastikan apakah beliau Walid atau Utsman, Doktor usul fikih atau S1 Syari'ah. Sedangkan tentang daerah asal, maka tidak ada kontroversi, sebab Khamis Muashait terletak di tengah Provinsi Asir, di sebelah tenggara kota Abha. Mungkin saja belia adalah satu orang dengan dua nama berbeda, satu nama sebelum jihad dan satu nama setelah jihad. Atau juga mereka adalah dua sosok berbeda dari keluarga yang sama. Wallahu a'lam

Bukan Abu Bakar al-Baghdadi!
Sebagian pecinta jihad di Indonesia menyebarkan fotonya dan mengklaim bahwa orang di foto tersebut adalah Abu Bakar al-Baghdadi, amir ISIS.

Setelah kami mencoba mencari di internet, inilah foto terakhir Abu Bakar al-Baghdadi yang tersebar: http://www.voa-islam.com/read/analysis/2013/12/29/28328/kenapa-mereka-membenci-abu-bakar-al-baghdadi/#sthash.yg5mMdjd.dpbs

Siapapun "Abu Dujanah" al-Asiri, semoga Allah menerima beliau sebagai syahid di jalan-Nya.

Wallahu A'lam
read more →

MENUDUH ISTERI RASULULLAH BERBUAT KEJI, SYI'AH MENGHUKUM DIRI SENDIRI!



Syi'ah Rafidhah telah menuduh seorang wanita suci, isteri tercinta Rasulullah, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'anha berbuat fahisyah (zina). Sedangkan mereka tidak mampu membuktikan atau mendatangkan walau seorang saksi.

Maka sanksi yang pantas bagi mereka adalah dicambuk sebanyak 80 kali. Namun, karena sampai saat ini belum ada pemimpin muslim yang mampu menjalankannya, maka Allah menjadikan diri mereka sendiri sebagai eksekutornya. 

Akhirnya, tiap tahun mereka memukul-mukul diri sendiri lebih dari delapan puluh kali, bahkan sampai berdarah-darah. 
Subhanallah, walhamdulillah.

Adapun kewajiban kita adalah membongkar dusta Syi'ah, menolak kesaksian mereka, dan menganggap mereka sebagai orang fasiq!

Allah Ta'ala berfirman:
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. an-Nur: 4)
read more →

Hukum Sujud di Atas Lempengan Tanah Karbala


Bismillahirrahmanirrahim

Dalam shalat, seorang muslim harus mengikuti tatacara shalat Rasulullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dan Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." (HR. Bukhari, no. 6008)
Dalam ibadahnya, Syi'ah memiliki inovasi-inovasi kontemporer yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Salah satunya adalah mengharuskan sujud di atas lempengan "Tanah Karbala." Tentu kita bertanya, apa hukumnya?

PERTAMA: Shalat di atas "al-Hawa'il" (alas/pembatas Antara jidad dan tempat sujud).
Dalam hal ini, ulama mengklasifikasikan al-Hawa'il (alas/pembatas) pada tiga bagian:
1.     Pembatas berupa anggota tubuh, seperti kedua telapak tangan.
Hukumnya:  Sujud di atas kedua telapak tangan hukumnya tidak boleh. (Lihat Fath al-Qadir, juz I, h. 306, al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, juz III, h. 428, al-Mughni, juz II, h. 198).
2.     Pembatas bukan anggota tubuh dan terpisah dari tubuh, seperti sejadah, karpet, dll.
Hukumnya: Ulama sepakat bahwa shalat di atas sejadah, karpet dan sejenisnya hukumnya boleh. (Lihat: al-Bahr al-Raiq, juz I, h. 337, al-Mudawwanah, juz I, h. 170, al-Hawi, juz II, h. 127, Masa'il Imam Ahmad wa Ishaq ibn Rahawaih, juz II, h. 569).
Sebab, Rasulullah pernah shalat di atas khumrah dan  hashir/sejenis tikar. (Lihat: Shahih Bukhari, no. 379, dan Muslim, no. 519).
Syekh Sholeh al-Utsaimin berkata: " Akan tetapi, makruh hukumnya mengkhususkan benda tertentu hanya untuk tempat sujud bagi jidad. (Lihat al-Syarh al-Mumti', juz III, h. 115).
3.     Pembatas berupa pakaian yang digunakan, seperti ujung serban, ujung lengan baju, dll.
Hukumnya: Jika ada udzur seperti saat musim panas atau musim dingin, atau kepala terluka dan diperban, sehingga tidak kuat untuk sujud langsung di atas tanah, maka sujud di atas pembatas jenis ini dibolehkan. Dan ini menjadi kesepakatan ulama.(Lihat: al-Binayah Syarh al-Hidayah, juz I, h. 242, al-Mudawwanah, juz I. h. 170, al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, juz III, h. 424, al-Inshaf, juz II, h. 68).
Adapun jika tidak ada Udzur, maka jumhur ulama (Hanafi, Maliki, dan Hanbali) memakruhkannya. Sedangkan Mazhab Syafi'i tidak membolehkannya. (Lihat: Referensi di atas).
KEDUA: Hukum Sujud di Atas Lempengan Tanah Karbala.

Jika dilihat dari klasifikasi di atas, maka tanah Karbala termasuk bagian kedua. Namun ada perbedaan yang sangat nyata antara lempengan tanah karbala dengan sejadah dan yang sejenisnya. Jadi hukum asala sujud di atas lempengan tanah Karbala adalah makruh, sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Ibn Utsaimin di atas.
Akan tetapi, sujud di atas tanah Karbala bisa menjadi haram, dengan berbagai pertimbangan berikut:

1.  Lempengan tanah Karbala menghalangi jidad sehingga tidak besentuhan langsung dengan tempat sujud, baik itu tanah ataupun sejadah dan sejenisnya.
Padahal semua ulama sepakat bahwa jidad wajib mubasyarah/bersentuhan langsung dengan tempat sujud jika tidak ada udzur. (Lihat: al-Binayah Syarh al-Hidayah, juz I, h. 242, al-Hawi, juz II, h. 127, al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, juz III, h. 424, Syarh Zarkasyi 'Ala Mukhtashar al-Khiraqi, juz I, h. 569).
2.    Syi'ah hanya mengkhususkan lempengan tanah Karbala untuk jidad, padahal sujud wajib dilakukan atas tujuh anggota tubuh, jidad, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung telapak kaki. Jika memang mereka mengharuskan sujud di atas tanah, maka mengapa keenam anggota tubuh lainnya sujud di atas karpet atau sejadah?
Mereka juga hanya mengkhususkan tanah Karbala, karena sangat mengagungkannya, padahal semua tanah sama saja. Dan jika memang ada tanah yang diagungkan, maka tanah Makkah jelas lebih mulia daripada tanah Karbala-Irak. Namun Rasulullah dan sahabat beliau tidak pernah mengambil lempengan Tanah Makkah atau Madinah untuk tempat sujud, dan dibawa ke mana-mana.
3. Pengkhususan tanah Karbala oleh Syia'h, karena mereka sangat mengagungkan dan mengkultuskannya, karena di situ tertumpah darah Husein ibn Ali. Namun, ini adalah ideologi terbodoh yang ada dalam sejarah, sebab:
Pertama: Tanah tempat tertumpahnya darah Husein sudah tidak asli lagi, terkikis air, diterbangkan angin, perubahan alam, habis diambil oleh pendahulu mereka dll, apalagi telah berlalu ratusan tahun.
Kedua: Jika benar masih menyimpan darah Husein, maka hukumnya najis karena bercampur dengan darah.
Ketiga: Bukankah di tanah itu Husein terbunuh, bukankah di tanah itu kaum Syi'ah mengkhianati beliau. Bukankah di sana penuh dengan bencana dan bala'? Namun mengapa mereka justru mengkultuskannya?
4.       Dalam referensi Syi'ah, Karbala adalah tanah yang paling dibenci oleh Ahlul Bait
Dalam riwayat Syi'ah (Bihar al-Anwar, juz XXXX, h. 252) disebutkan: Ibnu Abbas berkata, aku pernah bersama Amirul Mukminin (Ali ibn Abi Thalib) dalam perang Shiffin. Ketika tiba di sekitar Ninawa, beliau berkata: Wahai Ibn Abbas, tahukah Anda tempat apa ini? Aku menjawab; Tidak wahai Amirul Mukminin. Kemudian beliau berwudhu dan shalat. Kemudian beliau bertanya lagi seperti tadi. Lalu beliau berkata: "Ini adalah tanah KARBUN WA BALA'(tanah penuh bencana dan bala), di sini akan dikuburkan Husein, dan 17 dari keturunanku, dari keturunan Fathimah. Di langit tanah ini dikenal dengan tanah KARBUN wa Bala'."
Dalam riwayat lain disebutkan: Tempat ini disebut Karbala, dan dia adalah tempat Karb dan Bala' bagi kita (Ahlul Bait) dan bagi umat!
5.    Pengkultusan Syi'ah terhadap tanah Karbala, sebagai tempat terbunuhnya Husein, sangat menyerupai Kristen yang mengkultuskan salib, padahal salib sesuai klaim mereka adalah tempat dibunhnya Isa 'alaihissalam.
KESIMPULAN:
Sujud di atas lempengan tanah Karbala asalanya makruh, namun jika disertai pengkultusan atasnya bisa menjadi haram. Sebab, perbuatan ini menyalahi syari'at Allah dan rasul-Nya, sebagaimana telah dijelaskan di atas.


Intinya, Syi'ah sangat berusaha menyelisihi ahlus sunnah dalam ibadah dan berbagai perkara lainnya. Dalam shalat umpamanya, Syia'h tidak mewajibkan shalat jum'at hingga Imam Mahdi mereka keluar. Waktu shalat fardhu hanya tiga. Posisi imam shalat harus lebih rendah dari makmum. Dalam puasa, mereka tidak berbuka puasa hingga malam, seperti Yahudi. Dalam zakat mereka mewajibkan Khumus, tidak mewajibkan zakat. Dalam haji, mereka tidak mewajibkan haji ke Makkah, dan boleh diganti dengan haji ke Karbala. Dalam nikah mereka mengharuskan nikah mut'ah…dst. Intinya, mereka ingin tampil beda!

By: Admin
read more →

PP. DARUL HUFFADH TELADAN DALAM MENOLAK SYI'AH



Ribuan pesantren tersebar di berbagai penjuru nusantara,  sangat bervariasi dalam visi. misi dan target yang ingin dicapai. Juga bervarisai  dalam landasan, manhaj, dan metode yang dipegang.

Tapi, mungkin sangat langka ada pesantren yang dengan tegas menolak Syi'ah, bahkan memasukkanya dalam Garis Besar Haluan Pondok. Salah satu di antaranya adalah Pesantren Darul Huffadh, di Desa Tuju-Tuju, Kajuara-Bone, Sulawesi Selatan.

Dari 14 Haluan Pondok, penolakan terhadap GOLONGAN SESAT SYI'AH, dicantumkan dalam poin ke-3:

GARIS BESAR HALUAN PONDOK:

Berikut peraturan-peraturan dasar yang harus dilalui oleh setiap santri MQWH sejak berdiri hingga sekarang, dan berubah nama pada 11 November 1992 menjadi Pondok Pesantren Al-Qur’an Darul Huffadh :
  1. MQWH tidak terikat dengan salah satu partai politik atau organisasiorganisasi massa lainnya, dengan pengertian santri tidak dibenarkan mencampuri urusan politik hanya dibolehkan mengetahui serta mengamati alur perkembangan gerak politik.
  2. MQWH tidak bersandar kepada salah satu madzhab dengan pengertian santri tidak dibenarkan berfanatik madzhab, namun diharuskan mempelajari dan mengetahui pendapat setiap madzhab.
  3. MQWH tidak akan bekerja sama dengan golongan inkarussunnah atau GOLONGAN-GOLONGAN SESAT  lainnya seperti; Ahmadiyah, Islam Jama’ah, SYI'AH dll. 
  4. MQWH tidak sejalan dan searah tujuan dengan ahli bid’ah aqidah dan bid’ah ibadah.
  5. Dst… (http://www.darulhuffadh.or.id/konten/garis-besar-haluan-pondok)
Dengan memasukkan Syi'ah ke dalam GOLONGAN SESAT sebagaimana Ahmadiyah dan Inkarussunnah, ini menunjukkan kesadaran tinggi sang pendiri sekaligus pemimpin pondok (rahimahullah) tentang bahaya laten dan kesesatan Syi'ah.

Namun sayang, karena niat baiknya pesantren ini 'membiarkan' sejumlah santrinya mengambil 'beasiswa' ke Iran. Selain memang hal ini adalah hak asasi setiap alumni, barangkali pihak pesantren 'berprasangka baik' bahwa Lembaga Pendidikan di Iran pasti mengajarkan agama sesuai Al-Qur'an, Sunnah, dan manhaj sahabat. Kendati faktanya tidak demikian.

Boleh dikatakan, bahwa pondok pesantren adalah awal mula dimana 'Kegamaan' seorang santri ditempa, maka sudah selayaknya, para santri dibekali pengetahuan dasar Aqidah yang lurus serta tentang sekte-sekte sesat yang ada di Indonesia. Agar generasi Islam selanjutnya, memeliki landasan akidah yang kokoh, dan tidak tergoyahkan.



read more →